Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia dengan kekayaan alam melimpah yang berupa Tambang. Berbagai perusahan pertambangan ditemukan di pulau ini.

Begitu juga di tempat saya bertugas mengajar, kota Tarakan. Sebuah kota kecil di daerah perbatasan wilayah kalimantan timur bagian Utara, di kota ini saya bisa melihat mesin “angguk-angguk” menjamur dimana-mana untuk mengambil minyak dari perut bumi. Selain itu, di kota ini juga ditemukan batu bara, namun kegiatan penambangan batu bara tidak diijinkan karena alasan sustainability dan menjaga kelestarian lingkungan.

Beberapa waktu yang lalu, saat saya sedang memeriksa tugas mahasiswa, untuk makalah Botani Tingkat Tinggi, saya sedikit terkejut. Dalam makalahnya, salah satu mahasiswa mengatakan bahwa Batu bara yang ditemukan di bumi merupakan sisa-sisa dari tumbuhan Pteridophyta (Golongan paku-pakuan). Saya jadi berfikir, mungkin pada zaman dahulu di daerah kalimantan, hutan kalimantan didominasi oleh tumbuhan Pteridophyta sehingga saat ini banyak ditemukan batubara.


Gbr. 1. Fern (Pteridophyta)

Gbr. 2. Sample of Coal

Setelah membaca tugas mahasiswa tersebut saya jadi tergerak untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan batubara dan biologi. Studi awal saya coba lakukan dengan membaca beberapa literatur. Tidak terlalu banyak literatur yang bisa saya dapatkan mengenai hubungan antara Pteridophyta dan Coal, tapi ada satu referensi yang berjudul PTERIDOPHYTA yang menyatakan :
“Having discussed how some ferns interact with their environment and other organisms, it’s now appropriate to consider how pteridophytes affect humans or how humans utilize them. Perhaps, the most significant influence is the coal reserves, which ancient ferns from the Carboniferous period contributed, and which, historically, has been an incredibly valuable resource to mankind (Jones 1987).”

Berdasarkan statement tersebut, saya coba membuat kesimpulan sementara bahwa terdapat hubungan yang erat antara pteridophyta dan Coal. Pteridophyta merupakan sumber utama terbentuknya Coal di lapisan bumi dan hal itu terjadi sejak jaman purba, yaitu periode Carboniferous.

Berdasarkan sejarah terbentuknya, batu bara terbentuk pada lapisan bebatuan bumi, berasal dari seresah tumbuh-tumbuhan yang dapat berupa daun, batang, spora, akar, dan seresah tumbuhan yang lainnya. Seresah tersebut kemudian tertimbun dalam tanah dan akan semakin mampat (mengeras) dengan adanya air. Pengaruh lingkungan, dalam hal ini adalah suhu dan tekanan menjadi faktor penting dalam proses pembetukan batu bara. Proses itu sendiri disebut dengan Coalification. Lapisan btu bara yang terbentuk ini mulai dari 1 inci sampai dengan lebih dari 100 kaki.

Bukan hal yang aneh atau mustahil apabila batu bara terbentuk dari seresah Pteridophyta. Mengapa dari Pteridophyta?

Literatur lain menyatakan : The pollen and spores suggest that the coals were derived principally from complex angiosperm mire vegetations, with subordinate proportions of ferns that generally grew in a subtropical to tropical climate.

Kalimat tersebut menjelaskan bahwa, batu bara tersusun dari seresah tumbuhan tingkat tinggi dan pada awal pembentukan batu bara (lapisan bawah), tersusun dari material tumbuhan Pteridophyta (Fern) atau paku-pakuan. Jenis tumbuhan ini sering dijumpai pada daerah beriklim tropis dan subtropis.

Saya mencoba mengkorelasikan antara Teori Evolusi, Suksesi, dan Proses Geologi. Pada dasarnya, saya kurang mendukung terhadap teori evolusi, dan disini akan lebih saya hubungkan dengan suksesi. Mengapa Paku-pakuan yang menyusun lapisan paling bawah batu bara?

Pada dasarnya, suatu vegetasi akan selalu menalami perubahan dengan tujuan untuk mencapai kestabilan. Dalam proses menuju kestabilan tersebut terdapat perubahan jenis tumbuhan yang tumbuh di suatu lokasi. Jenis Paku-pakuan mungkin dapat dikatakan sebagai “Pioneer” atas tumbuhan yang lain, artinya, tumbuhan ini dapat tumbuh sebelum tumbuhan lain tumbuh dan menyebabkan lingkungan tersebut dapat ditumbuhi oleh tumbuhan yang lain. Pada perjalanan menuju kestabilan tersebut, ada kalanya tumbuhan awal tetap mampu tumbuh tetapi tidak jarang juga kalah bersaing dan akhirnya tergantikan oleh spesies yang lain.

Pada saat suatu tumbuhan tergeser dan tergantikan oleh spesies lain dan kalah bersaing, maka tumbuhan akan mati. Begitu halnya dengan jenis Pteridophyta, mungkin jenis ini menjadi pembuka lahan bagi tumbuhan lain, pada saat tumbuhan lain dapat hidup, justru pteridophyta mati kemudian tertutup lapisan tanah dan menjadi bagian awal proses terbentuknya batu bara. Proses ini tidak terjadi dalam waktu yang singkat melainkan butuh waktu yang lama, berjuta-juta tahun.

Demikian lah sedikit review yang mungkin bisa menjawab keingintahuan saya tentang Batu bara yang ternyata erat hubungannya dengan Ilmu yang saya pelajari, Botani.
Saya akan terus melakukan studi tentang fenomena ini dan mungkin untuk mineral-mineral yang lain.

Kalimantan, Bumi Allah yang menyimpan berjuta misteri dan menarik untuk dikaji, Subhanallah….

Tulisan ini sangat jauh dari sempurna, mohon saran, koreksi, dan tambahan informasi dari para pembaca.
Terima Kasih…