Entah sudah berapa panjang jalan yang telah aku lalui
Namun tak jua aku melihat ujungnya
Serasa begitu lama waktu yang sudah aku habiskan
Untuk meniti jalan ini

Aku tak bisa melalui jalan ini seorang diri
Jalan ini terlalu panjang untuk kulalui seorang diri
Aku butuh sandaran saat energi dalam sel-sel tubuh mulai habis
Butuh pengarah saat hilang arah
Butuh cahaya saat sel-sel batang pada retina mataku dalam kegelapan

Dimanakah engkau
Yang bisa menjadi penunjuk jalan, pemberi cahaya, dan pembimbing langkah
Berapa lama lagi waktu yang harus aku habiskan menantikannya?
Energiku hampir habis
Cahayaku mulai meredup
Sementara kabut semakin tebal
Hingga tak lagi bisa aku bedakan arah

Aku takut tersesat sebelum bertemu dengannya
Aku takut kehabisan energi sebelum bertemu dengannya

Kalau memang dia ada
Permohonanku hanya satu….
Segera pertemukan
Tapi kalau memang tidak ada, yah…aku pasrah, itulah takdirku

Aku lelah menghibur hati ini…
Aku lelah menjawab pertanyaan hati ini…
Aku lelah mengalihkah perhatian hati ini..
Aku lelah meyakinkan hati ini…

Bukankah ini sudah waktunya?
Tapi kenapa tak jua sampai?
Apa dia tersesat?
Apa dia tak tahu jalan menujuku?
Atau dia masih ragu padaku?
Hatiku selalu mempertanyakan kehadirannya….

Seandainya dia tahu…
Aku telah menunggunya dengan berjuta cita dan cinta
Cinta yang hanya akan aku curahkan padanya
Hanya untuknya…

Tapi,
Siapa dia?
Siapa yang aku nanti?
Siapa yang aku harapkan untuk jadi sandaranku?
Siapa yang aku inginkan untuk membimbing langkahku?

Dialah suamiku,
Panutan hidupku,
Imam dalam setiap langkahku,
Penunjuk arah dan cahaya kehidupanku

Aku selalu menanti kehadiranmu….